Kamu adalah garam dunia; tetapi kalau garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?… –Matius 5:13.
Seseorang mungkin bertanya-tanya mengapa kaum Anabaptis, para Bapa Gereja awal, penulis sejarah gereja, dan terutama pencetus (penggagas atau pengarang) dari keyakinan kita, Kristus sendiri, mengambil sikap yang begitu keras dan mutlak terhadap pemisahan gereja dan negara. Mengapa mereka dengan tegas berkhotbah, menulis, dan memperingatkan terhadap keterlibatan politik apa pun oleh orang Kristen? Mungkin jawaban terbaik dapat ditemukan dengan melihat hasil ketika orang Kristen mengabaikan peringatan tulus ini, melepaskan kesetiaan mereka kepada Allah, dan mengikatkan diri kepada sebuah kerajaan duniawi yang cacat dan pada akhirnya sia-sia.
Mennonit di Jerman adalah episode yang sangat menarik dan penuh peringatan dalam sejarah Kristen dan Anabaptis—bukan hanya karena kedekatan waktu mereka dengan kita—tetapi juga karena pengabdian mereka yang nyaris total kepada seorang pemimpin dan agenda duniawi. Apa yang membawa mereka ke posisi yang tidak menyerupai Kristus itu? Pemahaman yang benar tentang kisah mereka harus dimulai, tentu saja, dari asal-usul mereka.
Mennonit Jerman abad ke-20 menurunkan asal-usul dari kelompok-kelompok Anabaptis pertama, tetapi tidak seperti nenek moyang kita, mereka tetap berada di Dunia Lama dan tidak berhijrah ke Dunia Baru. Di sana, sejumlah faktor mendorong mereka ke posisi unik dalam peristiwa dunia, sebuah posisi yang akan menguji keteguhan mereka di panggung global.
Permulaan abad ke-20 membawa Perang Dunia pertama, yang berakhir dengan kekalahan Jerman dan sekutunya. Perjanjian damai yang dihasilkan disusun untuk mempermalukan dan menghancurkan Jerman, membebani negara itu dengan hutang perang yang nyaris tak terbayar, dan membatasi haknya untuk membangun militer. Warga Jerman, tidak mengherankan, merasakan penghinaan ini sebagai tambahan atas luka karena kalah perang. Kebencian mereka membusuk, dan segera memanifestasikan diri dalam gerakan nasionalis, yang paling menonjol adalah Partai Pekerja Sosialis Nasional Jerman (atau Partai Nazi). Partai itu didirikan pada 1919, dan Hitler termasuk di antara anggota awalnya. Ia segera mengambil kepemimpinan partai, menarik pengikut dengan retorika “kami melawan mereka” dan kepemimpinan yang kuat.
Pertumbuhan partai kecil pada dekade setelah pendiriannya. Selama waktu itu, Hitler terus membentuk kaum Nazi menurut kehendaknya. Kebencian terhadap sebagian besar kelompok non-Jerman (Arya) menjadi tema sentral partai, bersama dengan kebencian yang keras terhadap komunisme. Namun partai itu belum cukup besar sehingga hanya menjadi suara pinggiran, mewakili hanya sebagian kecil pemilih Jerman.
Ketidakpentingan itu tidak bertahan lama. Depresi Besar membawa katalis bagi kebangkitan Nazi. Ketika pasar global runtuh, lebih dari 2 juta orang Jerman kehilangan pekerjaan. Menganggur, mereka berkumpul di sekitar kepemimpinan karismatik yang menjanjikan pekerjaan, memberi mereka kekuasaan, untuk “Membuat Jerman hebat lagi”. Bergerak cepat, Hitler menambah barisan pengikutnya.
Ribuan anggota baru Partai Nazi memungkinkan partai tersebut untuk bersaing secara serius dalam banyak pemilihan lokal, dan di Parlemen Jerman, mereka mampu mengendalikan suara yang cukup untuk mempengaruhi pembuatan kebijakan. Dalam jangka panjang, kekuatan politik mereka memberikan Hitler jabatan perdana menteri. Setelah mengamankan posisi itu, ia kemudian menggulingkan pemerintahan Jerman, menegaskan dirinya dan partainya sebagai penguasa tak terbantahkan Jerman.
Mengapa seorang pria seperti itu, dan gerakan seperti itu, menarik perhatian dan kekaguman dari sebuah gereja yang mengakui banyak dari apa yang kita anut? Mengasihi musuh kita, pemisahan dari dunia, dan nonresistensi tampaknya tidak cocok dengan pesan Nazi. Jawabannya, seperti kebanyakan gereja yang menyimpang, paling baik digambarkan terjadi dalam langkah-langkah kecil dan selama waktu yang panjang.
Pada 1929, Mennonit berada di bawah pengamatan Jerman dan Partai Nazi yang sedang berkembang pesat. 13.000 pengungsi Mennonit Rusia turun ke Moskow, mencari jalan keluar dari negara yang dikuasai komunis. Nazi memanfaatkan situasi itu, menggunakan Mennonit sebagai bukti konon bahwa orang-orang Arya (bangsa keturunan Jerman, seperti Mennonit) diperlakukan tidak adil oleh dunia. Citra ini didorong oleh departemen propaganda negara, yang mengedarkan tulisan, pamflet, dan bahkan dua film yang sangat populer, menggambarkan Mennonit sebagai orang Jerman yang kuat dan berani yang berjuang melawan penindasan yang tidak adil oleh kaum Komunis Rusia. Upaya-upaya ini memberi perhatian nasional kepada para pengungsi, yang kemudian menyebabkan mereka diterima masuk ke Jerman.
Sementara banyak Mennonit masuk ke Jerman sebagai pengungsi dan lainnya, juga ada komunitas mapan yang berkembang yang mendapat sentuhan patriotik yang sama dari para propagandis Nazi. Sayangnya, gereja-gereja ini menyambut perhatian Nazi, sampai-sampai mengirim surat kepada Hitler yang berterima kasih atas menjadi “penyelamat bangsa Jerman” dan menyatakan kesetiaan mereka kepada pemerintahnya. Patut dicatat bahwa Hitler, seorang pria yang sangat sibuk menjalankan kekuatan dunia yang sedang muncul, secara pribadi menanggapi surat ini dengan sebuah memo yang berterima kasih kepada gereja-gereja atas dukungan mereka dan menyatakan keinginan untuk kerjasama lebih lanjut demi keuntungan Nazi dan Mennonit. Hubungan yang tampak menguntungkan ini semakin melemahkan gereja.
Sebuah kasus yang sangat mengejutkan dari keterlibatan politik Mennonit datang dari gereja-gereja di dalam atau sekitar Danzig. Danzig dan pedesaan sekitarnya lama menjadi bagian dari Kekaisaran Jerman, sampai akhir Perang Dunia I, ketika wilayah itu dipisahkan dari Jerman, pada dasarnya menjadi zona penyangga antara Jerman dan Polandia. Pada 1939, Hitler membuat salah satu langkah pertamanya di Eropa dengan menganeksasi Danzig, tempat Nazi membangun pengaruh partai selama sebagian besar tahun 1930-an. Mennonit di daerah itu, yang hanya satu generasi sebelumnya adalah Jerman, menyambut peran baru mereka dalam Jerman masa depan, terlibat dalam hampir setiap tingkat Partai Nazi. Otto Andres menjadi Nazi berpangkat kedua tertinggi di wilayah Danzig, dan puluhan dari 6.000 orang percaya di jemaat-jemaat sekitar bergabung dengan berbagai organisasi Nazi. Para pria sering ikut serta dalam paramiliter SA dan SS, sementara istri-istri dan putri-putri mereka ikut serta dalam kelompok-kelompok perempuan yang sepadan. Gereja-gereja menjadi dipenuhi oleh Nazi aktif, bahkan sampai menerima mereka ke dalam kepemimpinan gereja. Pada satu titik, lima dari tujuh gereja setempat dipimpin oleh anggota partai aktif.
Perang Dunia II adalah langkah terakhir dalam integrasi Mennonit dengan Nazi. Kamp konsentrasi Jerman Stutthof memasok tenaga paksa kepada banyak usaha Mennonit. Gereja-gereja Mennonit mengorganisir upaya perang, termasuk merekrut pemuda mereka untuk bertugas dalam tentara Jerman. Dalam sebuah kasus yang sangat bengkok, seorang dokter Mennonit, Johan Klassen, secara pribadi bertanggung jawab atas kematian lebih dari seratus anak yang cacat.
Mungkin episode yang paling mengkhawatirkan dalam kisah suram penyimpangan ini terjadi setelah perang. Kepemimpinan Mennonit, menyadari sampai tingkat tertentu kedalaman mengerikan ke mana mereka telah jatuh, dan mencatat keadilan yang akan datang melalui pengadilan Nuremberg, pada dasarnya melepaskan kesalahan dari pundak mereka. Mereka berpaling kepada saudara-saudara Mennonit mereka di seberang lautan, meyakinkan bahwa mereka tidak bersalah, memutarbalikkan keterlibatan mereka dalam rezim Nazi sehingga tampak seolah-olah mereka adalah korban. Mennonit Amerika membantu para pengungsi ini dalam banyak cara, menyediakan segala macam bantuan, dan pada akhirnya menjaga agar kebanyakan dari mereka tidak menghadapi kemungkinan hukuman penjara atau hukuman mati. Gereja-gereja Jerman yang tersisa akhirnya hancur atau bermigrasi ke Amerika.
Jika sebuah kelompok yang pada awalnya memegang keyakinan yang identik dengan kita bisa menyimpang sampai pada titik pembunuhan anak dan tenaga budak, maka pertanyaan yang harus diajukan adalah: "Apakah kita melihat kebodohan mereka sebagaimana mestinya?" Mengapa gereja-gereja Danzig menerima pendekatan apa yang, jika ditinjau kembali, adalah gerakan yang jelas tidak biblis dan tidak menyerupai Kristus?
Asal kejatuhan mereka ternyata sangat sederhana. Mennonit Jerman lupa siapa Penguasa mereka yang sejati. Tidak ada kerajaan duniawi yang sedang berperang yang mentolerir kesetiaan kepada musuh, begitu pula Kerajaan Surga. Kesombongan mereka terhadap kerajaan duniawi, pengejaran kehormatan dan kekuasaan, semuanya mengarah pada akhir yang dapat diperkirakan. Garam mereka kehilangan rasa, dan mereka dicampakkan serta diinjak-injak. Ini adalah kisah peringatan tentang bahaya pengikatan yang tidak setara antara gereja dan dunia.
Sumber:
anabaptisthistorians.org/2018/02/07mennonites-and-the-holocaust-an-introduction



