REMNANT Majalah

Perempuan

Kebebasan Emosional

Untuk Perempuan Muda

Edisi asalThe Heartbeat of The Remnant · Januari/Februari 2006 · Volume 12 · Nomor 1

Sebagai perempuan muda, kita diciptakan dengan kebutuhan akan pemenuhan emosional. Meskipun keinginan untuk menikah adalah karunia dari Allah, Tuhan juga telah menyediakan anugerah yang berlimpah agar kita dapat hidup bahagia tanpa pasangan hidup, selama beberapa tahun atau bertahun-tahun, sesuai dengan pilihan-Nya. Dalam masa lajang ini, Tuhan bermaksud agar kita menemukan kebebasan sejati dengan sepenuhnya menjadi milik-Nya dan menyerahkan diri kepada kasih-Nya yang tiada tara. Tahun-tahun ini juga memberikan kesempatan unik untuk bertumbuh secara rohani dengan pesat dan melayani.

Karena potensinya, masa kehidupan yang istimewa ini menjadi sasaran musuh. Jika Iblis dapat memperbudak jiwa seseorang pada masa mudanya, ia berhasil merampas banyak karunia berharga yang bernilai kekal: kehidupan Kristen yang berkemenangan, keintiman dengan Tuhan, dan pelayanan yang diurapi. Masa muda kita adalah saat ketika banyak peperangan penting berlangsung dan pola hidup terbentuk. Sering kali, peperangan dan pilihan ini begitu membentuk diri sehingga akibatnya, kita menjalani masa dewasa dalam belenggu atau kebebasan. Sebagai perempuan muda yang belum menikah, mungkin peperangan terbesar kita adalah menjaga hati yang murni dan mengendalikan emosi yang diberikan Allah. Saya pribadi percaya bahwa apa yang kita lakukan—lebih tepatnya, siapa diri kita—dalam masa kehidupan yang istimewa ini sangatlah penting, tak terukur besarnya.

Pada dasarnya, saya melihat dua pilihan. Belenggu atau Kebebasan. Belenggu akibat kerinduan emosional akan pemenuhan romantis. Atau kebebasan untuk hidup dengan sukacita dan rasa cukup, serta mengasihi Tuhan dengan segenap hati.

Karena kasih dan kuasa Tuhan Yesus Kristus, saya telah mengenal kebebasan yang indah ini. Kebebasan itu begitu indah, memuaskan, dan membawa berkat, sehingga saya tidak puas hanya menyimpan sukacita ini untuk diri sendiri. Kebenaran-kebenaran yang saya temukan dalam perjalanan bersama Tuhan memiliki potensi untuk mengubah hidup sedemikian rupa, sehingga saya tidak dapat berdiam diri.

Seorang pemuda dengan gitar menyanyikan lagu untuk seorang perempuan di jendela yang terbuka

Karena itu, tujuan utama saya menulis artikel ini adalah untuk melantunkan pujian bagi Kekasihku. Dia telah menyatakan kasih-Nya kepadaku dan memikat hatiku. Janji-janji-Nya tidak pernah gagal.

Lalu, saya ingin membagikan visi saya tentang kebebasan emosional. Seseorang pernah berkata dengan bijaksana: “Visi tanpa tindakan adalah mimpi. Tindakan tanpa visi adalah mimpi buruk. Namun tindakan yang disertai visi mewujudkan kenyataan yang indah.” Hal-hal yang saya bagikan di sini adalah beberapa visi saya. Namun bagi saya, ini lebih dari itu. Ini adalah kenyataan yang indah; inilah kesaksian saya. Karena visi harus disertai tindakan agar menjadi kenyataan, saya telah menyertakan beberapa hal praktis yang dapat kita lakukan untuk memperoleh kebebasan emosional. Namun, mari kita mulai dari awal.

Kita Perlu Memiliki Visi tentang Kebebasan Itu

Bagi kalian yang sedang hidup dalam kebebasan, banyak kebenaran yang saya bagikan bukanlah hal baru. Saya ingin menguatkan kalian; janganlah jemu berbuat baik! Kiranya Allah terus memberi kalian kemenangan. Dan, tolong doakan saya dan hubungan saya dengan Allah.

Namun, beban hati saya terutama tertuju kepada mereka yang belum hidup dalam kemenangan. Sebagian dari kalian mungkin terbelenggu oleh emosi dan sedang berjuang dalam pertempuran yang terus membawa kekalahan. Kalian berharap dapat sekadar “bertahan” melewati masa lajang. Kalian merasakan beban berat, kerinduan yang kuat tetapi tak terpenuhi. Kalian belum mengenal kasih Yesus Kristus yang indah dan memuaskan. Kalian tidak bahagia. Kalian tidak bebas. Oh, saat membaca artikel ini, biarlah iman dan pengharapan bangkit dalam jiwa kalian: kalian dapat dibebaskan untuk mengasihi Tuhan Yesus sepenuhnya! Allah ingin melakukan pekerjaan besar di dalam diri kalian. . . dan Dia sanggup melakukannya! Kiranya kalian mengenal Kebenaran, yaitu Yesus Kristus, yang akan memerdekakan kalian. Dan “Jadi, apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.” (Yohanes 8:36)

Langkah-Langkah Menuju Kemenangan

Seperti dalam setiap aspek kehidupan Kristen, kita tidak dapat meraih kemenangan dengan kekuatan sendiri. Usaha kita sendiri akan terbukti sia-sia dan membuat frustrasi. Kita membutuhkan anugerah ilahi, yakni keinginan dan kuasa untuk melakukan kehendak Allah. Ketika kita datang dengan hati yang hancur di hadapan Tuhan dan menyerahkan hati kita untuk dijaga-Nya, Dia menerima penyerahan diri kita. Satu-satunya cara agar hati kita benar-benar terjaga kemurnian emosionalnya adalah dengan sungguh-sungguh menyerahkannya kepada Tuhan Yesus dan memercayakannya dalam pemeliharaan-Nya. Sebagai Gembala yang Baik, Dia tidak pernah kehilangan atau salah menempatkan apa yang dipercayakan kepada-Nya. “. . . sebab aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memelihara apa yang telah kupercayakan kepada-Nya hingga pada hari itu.” (2 Timotius 1:12)

Salah satu langkah yang dapat kita ambil setelah penyerahan diri awal adalah menyingkirkan segala kesempatan bagi daging. “Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, sebagai pendatang dan perantau, supaya kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa.” (1 Petrus 2:11) Menghadapi perasaan dan keinginan kita sendiri sudah cukup sulit tanpa menambah godaan dari video, musik, dan buku duniawi yang membangkitkan emosi kita! Hal-hal ini menghambat kasih kepada Yesus, menumbuhkan ketidakpuasan, dan mengaburkan pandangan rohani kita. Mari kita mengambil langkah radikal untuk menyingkirkan semua pengaruh yang merusak dari kehidupan kita. Menyingkirkan beban-beban ini membebaskan kita untuk berlari dalam perlombaan kita.

Kita membutuhkan nasihat bijaksana dari Bapa surgawi dan orang tua kita di dunia untuk mengetahui cara menjalani hubungan yang murni dengan pemuda. Allah juga telah memberi kita akal sehat. Jika kita sungguh-sungguh ingin menjaga kemurnian hati, kita tidak akan melakukan hal-hal yang membangkitkan emosi kita tanpa perlu. “. . . janganlah memberi kesempatan bagi daging untuk memuaskan hawa nafsunya.” (Roma 13:14) Kemurnian hati kita terlalu berharga untuk dipertaruhkan. Hindarilah situasi yang tidak sehat. Ini termasuk menjalin persahabatan khusus dengan pemuda lain. Seorang gadis yang sepenuhnya mengabdikan diri kepada Yesus seharusnya memperlakukan semua pemuda dengan cara yang sama, tanpa bersikap lebih akrab secara khusus kepada siapa pun. Secara alkitabiah, kita harus memperlakukan mereka sebagai saudara di dalam Tuhan—tetapi persahabatan yang khusus dan akrab (di luar hubungan berpacaran yang kudus) berbahaya dan menimbulkan pergumulan yang tidak perlu.

Menghadapi Emosi

Aspek yang sangat mendasar dari kebebasan emosional adalah menyerahkan kepada Tuhan semua kasih sayang yang bersaing dengan-Nya. Kasih sayang yang bersaing adalah kerinduan emosional atau ketertarikan romantis yang menghambat ketaatan dan kasih kepada Yesus. Apa pun status pernikahan kita, Kristus menuntut dan layak mendapat tempat pertama di hati kita. Namun, kebebasan emosional bukan berarti tidak memiliki keinginan untuk menikah atau bersikap acuh tak acuh terhadap pemuda. Sebaliknya, kebebasan ini memungkinkan kita mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati dan tanpa gangguan. Prinsip ini terdapat dalam 1 Korintus 7:35.

Dua perempuan bertudung duduk di bangku di samping burung-burung

Penting untuk memahami bahwa ketertarikan emosional kepada pemuda bukanlah sesuatu yang jahat. Namun, itu juga bukan kasih; itu hanyalah perasaan suka kepada mereka. Selain itu, emosi kita bukanlah sesuatu yang perlu kita benci sebagai “penghalang” atau “masalah”. Emosi baru menjadi masalah ketika tidak pada tempatnya, ketika mengendalikan kita. Allah ingin memakai pergumulan demi kemurnian emosional untuk membuat kita bergantung erat kepada-Nya. Saat kita menanggapi tuntunan-Nya sebagai Gembala, justru hal-hal yang mendorong kita berlutut akan dipakai untuk menjadikan kita perempuan-perempuan Allah. Lalu kita dapat memahami bagaimana pergumulan ini pun pada akhirnya dapat menghasilkan kebaikan sepanjang hidup (dan kekekalan).

Apa yang kita lakukan terhadap emosi kita menentukan apakah kita akan hidup dalam kebebasan atau belenggu. Jika seorang perempuan muda memilih untuk mempertahankan keinginannya, memupuknya, dan merahasiakannya, jiwanya akan diperbudak olehnya. Hal yang benar untuk dilakukan ketika kita merasakan ketertarikan emosional kepada pemuda tertentu adalah segera dan sepenuhnya menyerahkannya kepada Tuhan. Sebab “. . . mereka yang menjadi milik Kristus telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.” (Galatia 5:24)

Dalam Kitab Kejadian kita membaca bahwa Allah, Sang penjodoh yang kekal, menidurkan Adam ketika Dia menyiapkan pasangan hidup baginya, yaitu Hawa. Ketika waktu Allah tiba sepenuhnya, Adam terbangun dan dipersatukan dengan Hawa, “pilihan sempurna” Allah. Kisah pernikahan pertama ini, bagi saya, menggambarkan apa yang Allah ingin lakukan dalam hidup kita. Allah sanggup dan bersedia memberikan ketenteraman sejati bagi hati kita. Dalam hal emosi, “Ia memberikan tidur kepada orang yang dikasihi-Nya.” (Mazmur 127:2) Namun, saat kita beristirahat dalam pelukan Bapa, kita dapat yakin bahwa Dia tidak sedang tidur! Dia sedang menyiapkan pasangan hidup yang sempurna bagi kita, sebagaimana yang Dia lakukan bagi Adam. Mengingat kebenaran-kebenaran ini, renungkanlah janji-janji Allah yang lembut ini: “. . . Ia yang menjagamu tidak akan terlelap. . . ataupun tertidur. . . TUHANlah Penjagamu. . .” (Mazmur 121:3~5) Ketika Allah “membangunkan” kita pada waktu yang ditentukan, kiranya kesaksian kita berbunyi, “Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang aku.” (Mazmur 3:5)

Seorang perempuan membawa bejana di atas kepalanya menyusuri jalan berbatu

Tuhan juga telah memberi kita para pemegang otoritas manusia, biasanya orang tua kita, untuk membantu dan membimbing kita dalam menghadapi persoalan ini. Allah ingin kita “menyerahkan” hati kita kepada orang tua dan tetap berkomunikasi secara terbuka dengan mereka mengenai pergumulan emosional kita. Perhatian mereka yang penuh kewaspadaan adalah berkat yang luar biasa! Pertanggungjawaban yang jujur kepada ayah dan ibu sangat membantu kita mencapai kebebasan emosional. Bahkan sedikit saja ketidakjujuran akan sangat menghambat kehidupan yang berkemenangan. Semakin jujur dan terbuka kita kepada Allah dan para pemegang otoritas kita, semakin besar kebebasan yang akan kita nikmati. Awalnya, mungkin terasa memalukan atau sulit berbicara kepada orang tua tentang pemuda dan keinginan untuk menikah. Namun bagi saya, lama-kelamaan hal itu semakin mudah.

Terkadang kita merasakan ketertarikan emosional yang lebih serius kepada seorang pemuda, terutama ketika kita beranjak dewasa sebagai perempuan. Yang saya maksud dengan “serius” adalah bahwa ini bukan sekadar keinginan sesaat. Mungkin kalian benar-benar merasa ingin menikahi seseorang tertentu dan merasa “tidak bisa melepaskan” ketertarikan emosional yang kalian rasakan. Dalam banyak hal, jawabannya tetap sama: serahkan keinginan itu kepada Allah dan tetaplah terbuka serta jujur kepada para pemegang otoritas. Kita harus lebih waspada lagi dalam menjaga hati dan perilaku lahiriah terhadap orang yang secara khusus menarik bagi kita.

Namun, itu saja tidak cukup. Ketundukan penuh kepercayaan kepada rencana Bapa akan memberi kita kemenangan atas emosi. Ketundukan adalah tindakan kehendak di bawah kendali Roh Allah. Mungkin kita tidak langsung merasa bahwa ada sesuatu yang berubah. Sering kali ada jarak antara emosi dan kehendak kita, tetapi jangan biarkan hal itu membingungkan.

Pada saat kita membutuhkan pertolongan, kita dapat berseru kepada Tuhan dan mencurahkan isi hati kepada-Nya dengan sejujur-jujurnya. “Allah, aku harus mengatakan kepada-Mu betapa kuatnya perasaanku terhadap ‘si anu’. Tuhan, rasanya aku menginginkan hubungan ini. Namun, aku sungguh lebih menginginkan kehendak-Mu. Sebisa yang aku tahu, aku menyerahkan diri dan memberikan semuanya kepada-Mu. . . sekalipun Engkau tidak memberikan apa yang kuinginkan. Tolonglah aku!” Dan Dia akan menolong. Dia mendekat kepada hati yang rendah hati dan hancur, lalu memenuhinya dengan anugerah-Nya sendiri.

Situasi ini mengingatkan saya pada perkataan Daud ketika ia ditawari bahan-bahan untuk korban persembahan kepada Tuhan tanpa harus membayar: “Tetapi raja berkata. . . aku tidak mau mempersembahkan korban bakaran kepada TUHAN, Allahku, dengan tidak membayar apa-apa. . .” (2 Samuel 24:24) Sering kali pengorbanan itu benar-benar menuntut harga. Atau setidaknya, rasanya demikian.

Saya ingin memiliki perspektif yang lebih tinggi tentang penyerahan diri. Saya ingin begitu menyadari siapa Tuhan dan apa yang telah Dia lakukan bagi saya sehingga saya dapat dengan sukarela berkorban bagi-Nya. . . betapa pun sulit atau menyakitkannya hal itu. Ketidakpercayaan yang lahir dari rasa takut, pikiran duniawi, atau sikap keras kepala membuat penyerahan diri menjadi sulit. Penyerahan diri menjadi sukacita ketika kita memiliki iman seperti anak kecil yang tak tergoyahkan akan kebaikan Bapa yang mutlak dan kasih-Nya yang sempurna. Namun, seperti yang dinyatakan himne lama itu, “. . . kita takkan pernah mengecap nikmat kasih-Nya sebelum semuanya kita letakkan di atas mezbah; sebab kemurahan yang ditunjukkan-Nya dan sukacita yang dianugerahkan-Nya adalah bagi mereka yang mau percaya dan taat.” (John H. Sammis, “Trust and Obey”)

Jadi, marilah kita dengan sukacita mempersembahkan kepada Tuhan bahkan apa yang harus dibayar mahal. Marilah kita bersemangat agar kehendak Allah terlaksana dalam hidup kita. Marilah kita berserah kepada-Nya dengan sukacita sekarang, bukan berserah dengan dukacita nanti. Suatu hari di dalam Kemuliaan, setiap pengorbanan akan lenyap dalam sukacita hadirat-Nya.

Kerinduan yang Terpuaskan

Menjaga hati dengan waspada tanpa memenuhi kebutuhan kita akan kasih dan rasa aman akan membuat kita kosong dan gelisah. Karena itu, kebebasan emosional tidak lengkap tanpa hubungan yang intim dengan Sang Juruselamat. Seperti yang dinyatakan Oswald Chambers, “Hati manusia harus dipuaskan, tetapi hanya ada satu pribadi yang dapat memuaskan jurang terdalam yang perih di hati manusia, dan Dia adalah Tuhan kita Yesus Kristus.”

Banyak orang, bahkan orang Kristen, sia-sia mencari kebahagiaan dalam diri orang lain atau hal-hal duniawi. Dalam upaya mencari kepuasan, kita para perempuan khususnya cenderung menganggap pernikahan sebagai tujuan hidup yang tertinggi. Pikiran seperti “Begitu aku menikah, barulah aku benar-benar bahagia” dapat menjadi bagian dari pola pikir kita, bahkan tanpa disadari dan secara halus.

Tentu saja, ada banyak kebahagiaan dan pemenuhan dalam pernikahan—Allah merancangnya demikian! Namun, bahaya menjadikan pernikahan sebagai berhala adalah bahwa kita mengharapkan dari manusia apa yang hanya dapat dilakukan Allah. Kekeliruan ini akan membuat kita mengalami kekecewaan di kemudian hari. Betapa pun luar biasanya para suami, mereka tetap manusia. Mereka gagal, memiliki keterbatasan, dan tidak hidup selamanya. Saya yakin bahwa sangatlah penting bagi kita untuk terlebih dahulu merasa aman dan teguh dalam kasih Allah. Selain itu, jika kita percaya bahwa pernikahan adalah sumber pemenuhan mendasar, kita keliru beranggapan bahwa mereka yang dipanggil Allah untuk hidup selibat tidak mampu mengalami pemenuhan sejati, seolah-olah mereka kehilangan kebahagiaan tertinggi. Yang terburuk, kita mengatakan bahwa Allah tidak mampu memenuhi kebutuhan kita.

Namun, ini sama sekali tidak benar. Sebagai Pencipta kita, Yesus Kristus sepenuhnya sanggup memuaskan hati kita. Ini adalah pelayanan yang Dia khususkan bagi diri-Nya sendiri, meskipun Dia menambahkan karunia kasih manusia. Kehendak Bapa kita adalah agar saat ini kita merasa cukup hanya dengan Dia. Saya yakin bahkan teman-teman kita yang sudah menikah dan ibu-ibu kita pun akan dengan senang hati bersaksi bahwa Allah adalah dasar sukacita sejati, dan bahwa tidak ada sesuatu atau siapa pun yang dapat memuaskan kerinduan terdalam jiwa kita.

Sebenarnya, saya merasa bahwa menemukan pemenuhan dalam Kristus adalah salah satu cara terbaik untuk mempersiapkan diri bagi pernikahan! Ketika pengharapan kita tertuju kepada Allah, seluruh kasih dan sukacita dalam pernikahan akan menjadi seperti lapisan gula di atas kue. Pernikahan yang benar-benar bahagia adalah pernikahan ketika masing-masing pasangan pertama-tama mengasihi Yesus dan merasa puas di dalam Dia. Namun, pertama-tama kita harus mencapai keadaan ketika kita tidak membutuhkan romansa. . . ketika kita begitu dipuaskan oleh Allah sehingga apa pun yang Dia berikan akan kita terima dengan rasa syukur yang meluap-luap sebagai berkat tambahan.

Tidak seperti pernikahan duniawi, hubungan kita dengan Yesus akan berlangsung sepanjang kekekalan. Karena itu, sangatlah layak untuk berupaya mengembangkan hubungan kita dengan-Nya. Salah satu cara penting untuk semakin dekat dengan Yesus adalah meluangkan waktu bersama-Nya. Berkomunikasi melalui membaca Firman Allah dan menanggapinya dalam doa merupakan cara-cara mendasar untuk mendekat kepada hati-Nya. Keintiman dengan Tuhan berlangsung secara spontan dan terus-menerus, tidak selalu terstruktur dan formal. Berjalan bersama Allah melampaui saat teduh di pagi hari. Dia ingin kita cukup dekat untuk membawa setiap dukacita dan sukacita kepada-Nya dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Sejak berusia 15 tahun, saya menetapkan tujuan untuk menemukan keintiman dan pemenuhan dalam Tuhan Yesus Kristus. Saya telah mengesampingkan romansa sampai waktu yang ditentukan Allah dan mengarahkan fokus emosional saya kepada Tuhan. Dengan sukacita saya dapat bersaksi bahwa Dia telah dan masih menggenapi janji yang Dia berikan kepada saya: “Sebab dipuaskan-Nya jiwa yang merindu, dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan.” (Mazmur 107:9)

Salah satu berkat terbesar dari kebebasan emosional ini adalah kestabilan dan kepuasan yang diberikan Yesus. “Harapan yang tertunda menyedihkan hati, tetapi keinginan yang terpenuhi adalah pohon kehidupan.” (Amsal 13:12) Kristus adalah Pengharapan kita yang tidak mungkin tertunda. Tidak perlu ada hati yang bersedih ketika kita mengasihi Yesus! Sama sekali tidak perlu mengalami naik-turun emosi yang drastis dan kerinduan kuat yang tak terpenuhi. Tentu saja, mungkin ada hari-hari ketika kita merasa sedih dan pergumulan kita lebih berat. Namun secara keseluruhan, kita dapat memiliki kestabilan dan kepuasan di dalam Kristus yang membuat kita menjalani masa lajang dengan penuh kemenangan dan sukacita.

Saya tidak mengatakan sesuatu yang hanya merupakan mimpi indah: hal ini dapat menjadi kenyataan bagi kita semua! Kalian dapat sebebas yang kalian inginkan! Kalian akan memperoleh Kristus sebanyak yang kalian inginkan! Dia memberi upah kepada mereka yang sungguh-sungguh mencari-Nya. Saya sepenuhnya yakin akan kesanggupan-Nya: Dia tidak kekurangan apa pun untuk memenuhi kebutuhan terdalam kita!

Pencinta Yesus Kristus yang Berkobar-kobar

Amy Carmichael adalah sosok yang sangat saya kagumi karena keintimannya dengan Yesus. Pengabdiannya yang mendalam kepada Kristus dan pelayanan membuatnya tidak terjerumus ke dalam ketidakpuasan. Namun, ada suatu masa tertentu dalam hidupnya ketika Allah berbicara kepadanya dengan cara khusus dan memberinya kekuatan untuk menjalani hidup lajang bagi Tuhan. Inilah yang ia bagikan kepada salah seorang anggota keluarganya di Dohnavur: “Pada hari ini, bertahun-tahun yang lalu, aku pergi seorang diri ke sebuah gua di gunung bernama Arima, di Jepang. Aku diliputi berbagai perasaan takut tentang masa depan. Itulah sebabnya aku pergi ke sana. Aku ingin sendirian bersama Allah. “Iblis terus berbisik, ‘Sekarang tidak apa-apa, tetapi bagaimana nanti? Kamu akan sangat kesepian.’ Dan ia melukiskan gambaran kesepian. Aku masih dapat melihatnya sampai sekarang.

“Lalu, dengan perasaan putus asa, aku berpaling kepada Allahku dan berkata, ‘Tuhan, apa yang dapat kulakukan? Bagaimana aku dapat bertahan sampai akhir?’ Dan Dia berkata, ‘Tak seorang pun yang percaya kepada-Ku akan ditinggalkan.’ (Mazmur 34:22)

“Firman itu telah menyertaiku sejak saat itu, dan sekarang kuberikan kepadamu. Firman itu telah digenapi bagiku. Firman itu akan digenapi bagimu. Hiduplah hanya bagi Dia yang telah menebusmu dan percayalah kepada-Nya untuk memeliharamu, maka Dia akan melakukannya.”” (Candles in the Dark, oleh Amy Carmichael, hlm. 17)

Membaca kesaksiannya hampir membuat saya merinding saat merenungkan makna luar biasa dari perkataannya: “. . . Firman itu telah digenapi bagiku. Firman itu akan digenapi bagimu.” Dan itu akan digenapi bagi kita jika kita juga berani percaya bahwa Allah akan menepati janji-janji-Nya. Apakah kita memercayai Kristus untuk mengasihi kita dengan intim. . . menopang kita. . . memuaskan kita? Sesuai dengan iman kita, jadilah demikian bagi kita.

Amy Carmichael adalah contoh sosok yang saya sebut “pencinta” Yesus. Ia mengasihi-Nya dengan sengaja, dengan kerinduan akan keintiman yang manis. Ia pernah menulis kata-kata yang mengungkapkan kerinduan hatinya: “Kamu akan, aku percaya dan yakin, semakin lama semakin mengasihi Juruselamat yang tersalib. Dia menginginkan para pencinta. Oh, betapa suamnya kasih begitu banyak orang yang menyebut diri mereka dengan nama-Nya. Betapa suamnya kasih kita sendiri—kasihku sendiri—jika dibandingkan dengan kobaran lava kasih-Nya yang kekal. Aku berdoa agar kamu menjadi pencinta yang berkobar-kobar, pencinta yang menyalakan api dalam diri orang lain.” (Amy Carmichael, Candles in the Dark, hlm. 107)

Kerinduan terdalam hati saya adalah menjadi salah seorang pencinta sejati Tuhan, seperti Rasul Yohanes dan Maria yang duduk di kaki-Nya. Saya bukan hanya ingin dekat dengan-Nya, tetapi juga ingin hidup saya membuat orang lain terdorong untuk mencari-Nya. Saya ingin menjadi pencinta yang berkobar-kobar seperti itu, yang menyalakan api dalam diri orang lain. Saya percaya kepada Tuhan untuk menjadikan saya seperti itu dan melanjutkan pekerjaan yang telah Dia mulai. Saya berharap ketika Tuhan memanggil saya pulang, Dia akan berkata kepada saya: “kasihmu kepadaku sangat mengagumkan.” (2 Samuel 1:26)

Sebagai Penutup . . .

Sungguh menggugah untuk memikirkan kemurnian dan semangat seorang perempuan muda yang bebas secara emosional. Karena mengasihi Yesus dan merasa puas di dalam-Nya, sukacitanya yang bercahaya menular kepada orang lain. Ia membawa keharuman Kristus yang mendorong orang lain untuk mencari-Nya. Namun, kita tahu bahwa kesaksian seindah itu tidak tercapai hanya dengan angan-angan. Semuanya dimulai dengan pilihan untuk hidup dalam kebebasan, menyerahkan keinginan untuk menikah, mengasihi Tuhan dengan segenap hati, dan percaya bahwa Kristus sepenuhnya sanggup memenuhi kebutuhan kita.

Saya bertanya-tanya, berapa banyak dari kalian yang akan membuat pilihan-pilihan ini. Apakah kalian akan memilih kebebasan emosional? Siapakah di antara kalian yang setahun dari sekarang akan memiliki kesaksian sebagai pencinta sejati Yesus? Akankah kalian mengenal sukacita penuh yang terdapat dalam hadirat-Nya yang indah? Berapa banyak dari kalian yang akan mendengar Dia berkata, “kasihmu kepadaku sangat mengagumkan”? Pilihan ada di tangan kalian. Jelas, pilihan ini membawa dampak yang tak terkatakan pada kehidupan orang-orang di luar diri kalian. Cepat atau lambat, dunia di sekitar kalian akan mengetahui pilihan yang kalian buat.

Saya berharap dan berdoa agar kalian mengikuti Sang Gembala ke “tempat-tempat tinggi” kasih-Nya. . . menuju hidup berkelimpahan yang penuh sukacita dan kebebasan. Kasih-Nya bagaikan samudra yang tak pernah habis, dan janji-janji-Nya cukup teguh untuk menopang kita. Kita hanya perlu menjalani satu hari demi satu hari. Dengan keyakinan tenteram kepada Dia yang memimpin. . . marilah kita menikmati perjalanan ini.

  • Seorang pemuda dengan gitar menyanyikan lagu untuk seorang perempuan di jendela yang terbuka · WS (initials in illustration)

Referensi majalah

Kebebasan Emosional. by Mollie Jo Cassidy. The Heartbeat of The Remnant, Januari/Februari 2006 · Volume 12 · Nomor 1. Halaman sumber 24–29.

Charity Christian Fellowship

Unduh Markdown ↓

Tinjau terjemahan ini di GitHub

Artikel terkait

Baca edisi
KesaksianJanuari/Februari 2006

Mathilde Wrede

Pada tahun 1900, Kongres Penjara Internasional diadakan di St. Petersburg. Kepala penjara terbesar di dunia, Tsar seluruh Rusia, penjaga pintu penjara raksasa yang membeku, Siberia, membuka sidang. Para adipati agung dan…

Kebangunan rohaniJanuari/Februari 2006

Rumus untuk Hati yang Berkobar

Saya pernah mengatakan bahwa setiap orang Kristen yang menginginkannya dapat mengalami kelahiran kembali rohani yang radikal, dan hal ini sepenuhnya terlepas dari sikap sesama orang Kristen. Pertanyaan penting sekarang…

Pembedaan rohaniJanuari/Februari 2006

Singa, Penyihir, dan Happy Meal:

Di penghujung kunjungan singkat ke rumah saudara laki-laki saya dan keluarganya akhir pekan lalu di South Carolina, kami berpamitan untuk terakhir kalinya sambil makan malam larut malam di McDonald’s setempat. Saya tidak…

Tentang arsip ini

Dalami Kitab Suci, pemuridan Kristen, dan iman dalam kehidupan sehari-hari melalui halaman-halaman The Heartbeat of the Remnant.

Berlangganan melalui RSS