Pernahkah Anda mencoba mengubah dunia? Saya pernah. Saat remaja, saya memimpikan petualangan-petualangan berani yang akan saya lakukan bagi Allah. Ketika menata meja di rumah orang tua saya, saya menantikan hari ketika saya bisa melakukan hal-hal yang lebih besar—hal-hal seperti membangun rumah tangga di Afrika, berbicara dalam bahasa-bahasa asing, dan menuntun orang-orang kepada Yesus. Gagasan hidup di gubuk lumpur dan menghindari ular berbisa terasa mendebarkan.
Lalu, sebagian impian saya menjadi kenyataan! Saya meninggalkan segala sesuatu yang selama ini saya kenal dan tiba di sebuah negara Afrika dengan adrenalin yang memuncak. Saya berusaha mengubah dunia kecil tempat saya berada—desa yang seolah ditinggalkan Allah, penuh kemabukan, pernikahan yang hancur, perkelahian, dan anak-anak yang terabaikan. Setiap hari saya merasakan kegelisahan karena begitu sibuk dengan tugas-tugas duniawi yang “tidak penting” dan bertanya-tanya bagaimana saya bisa membuat perubahan. Lalu tiba-tiba, pekerjaan kami dihentikan mendadak oleh kelelahan ekstrem dan berbagai kecurigaan pemerintah. Tak satu pun dari semua ini ada dalam impian saya.
Saya masih mengajukan pertanyaan yang sama, “Allah, bagaimana saya bisa membuat perubahan?” Tetangga datang mengetuk pintu. Perempuan yang mencuci pakaian perlu dibayar. Makan siang harus tersaji di meja dalam 15 menit. Anak kami yang duduk di kelas lima perlu dibantu mengalikan pecahan. Langit dipenuhi awan gelap sementara jemuran penuh pakaian. Saya mengelap hidung bayi untuk kesekian kalinya saat ia duduk di atas meja, mengacaukan buku dan kertas kakaknya. Saya memanggang roti, membuat yoghurt dan mengocok mentega, serta memasak 21 kali makan dalam seminggu. Saya melipat segunung cucian, lalu minggu berikutnya mengulang semuanya. Saya menyapu lantai yang dalam waktu hanya dua jam telah dipenuhi begitu banyak kotoran. Dalam banyak hal, hidup terasa lebih biasa-biasa saja daripada sebelumnya.
Saya tidak mampu mengubah dunia saat menjadi remaja yang penuh impian, dan sekarang pun saya tidak mampu. Allah tidak meminta hal itu dari saya. Dia hanya meminta saya berjalan bersama-Nya dan menaati suara-Nya. Perlahan-lahan saya belajar bahwa hal rohani dan jasmani tidak dapat dipisahkan—bahkan Yesus mengajarkan Injil Kerajaan Allah sambil beristirahat, tidur, dan makan. Menggosok lantai dan mengiris roti dapat menjadi tindakan penyembahan kepada Sang Pencipta jika saya menganggapnya demikian. Dialah yang merancang agar perjalanan rohani saya dan penyebarannya terjadi saat tangan saya menyentuh hal-hal duniawi. Dengan cara inilah roh saya dimurnikan. Inilah satu-satunya cara saya dapat menyatakan iman saya sebagai iman yang hidup. Inilah satu-satunya cara saya dapat menyentuh hati anak-anak saya dan menjalani Injil yang nyata untuk mereka teladani. Dengan cara inilah iman saya terbukti nyata bagi orang yang tidak percaya, ketika mereka melihat saya bergumul menghadapi hal-hal yang sama dengan yang mereka hadapi, serta melihat tanggapan saya terhadapnya.
Perlahan-lahan saya belajar bahwa melayani Allah bukanlah soal tekad atau mengubah dunia. Melainkan membiarkan Roh Allah tinggal di dalam diri saya, membimbing saya, dan berbicara kepada saya. Saya belajar bahwa Allah lebih tertarik pada pribadi yang sedang saya bentuk daripada pada segala hal yang ingin saya lakukan bagi-Nya. Mungkin pada akhirnya saya hanyalah sumbu yang masih berasap, bukan orang yang akan mengubah dunia. Saya rasa Paulus dapat memahami perasaan itu ketika ia menulis, Namun Allah telah memilih hal-hal yang bodoh menurut dunia untuk mempermalukan orang-orang berhikmat; Allah telah memilih hal-hal yang lemah menurut dunia untuk mempermalukan hal-hal yang kuat. Allah telah memilih hal-hal yang hina menurut dunia dan yang dianggap remeh, bahkan hal-hal yang tidak berarti, untuk meniadakan hal-hal yang berarti, supaya tidak seorang pun dapat bermegah di hadapan-Nya –1 Korintus 1:27-29.
Elisabeth Elliot berkata, “Terkadang terang itu terbit dengan sangat lambat, hingga terasa menyiksa. Kerajaan Allah seperti ragi dan benih, hal-hal yang bekerja dengan senyap, tersembunyi, dan lambat, tetapi di dalamnya terdapat daya ubah yang tak terukur. Bahkan di dalam tanah yang biasa saja, bahkan di dalam adonan yang hambar, tersimpan kemungkinan untuk berubah.”1
Memusatkan hati pada pencapaian dan keberhasilan adalah cara hidup yang mementingkan diri sendiri. Ketika desa dan orang-orang itu diambil dari kami dalam pusaran masalah pemerintah dan kesalahpahaman, saya merasa Allah tidak mungkin memakai hal ini untuk kebaikan siapa pun. Dia masih membutuhkan kami di sana, bukan? Faktanya, Dia tidak lagi membutuhkan kami di sana. Kami bukanlah orang yang tak tergantikan. Mungkin Allah mengizinkan semua itu agar saya belajar bahwa penerimaan-Nya terhadap saya tidak didasarkan pada pencapaian saya.
Siapakah yang memandang rendah hari-hari kecil… –Zakharia 4:10.
Siapakah saya sehingga berhak menilai apakah suatu pekerjaan itu kecil atau tidak? Apakah saya gelisah dengan tugas-tugas saya, karena percaya bahwa Allah akan lebih berkenan pada apa yang saya anggap sebagai tugas-tugas “besar”, yang tampaknya selalu tak terjangkau? Apakah saya lupa bahwa melayani Kristus bukanlah tentang diri saya dan rasa puas saya, melainkan tentang Allah dan pekerjaan yang ingin Dia lakukan melalui saya?! Amy Carmichael berkata, “Bukan tempat kita berada, atau pekerjaan yang kita lakukan maupun yang tidak dapat kita lakukan, yang penting; yang penting adalah hal lain. Api di dalam dirilah yang menyala dan bersinar, apa pun keadaan kita.”2
Api yang menyala dan bersinar di dalam diri kita adalah rahasia kita. Api itu dapat tetap menyala saat kita menggosok lantai, memasak makanan tanpa henti, dan menyekolahkan anak-anak kita di rumah. Api itu akan menyentuh perempuan yang mencuci pakaian, pembantu rumah tangga, gadis yang sedang bergumul di gereja, dan para tetangga. Terkadang hal itu terjadi tanpa kita sadari; terkadang itu terjadi jika kita memutuskan untuk menjangkau orang lain alih-alih tidur siang atau melakukan hal lain yang menyenangkan. Namun, hal itu selalu menuntut kita untuk melupakan diri sendiri, mengasihi orang lain, dan menyadari kesempatan-kesempatan kecil.
Namun, waspadalah… kita tidak boleh menyamakan sikap menerima hal-hal kecil dalam hidup kita dengan kelesuan. Terlalu banyak orang Kristen yang tidak berharap Allah akan memakai mereka, sehingga mereka menetap dalam keadaan rohani yang lesu. Kita seharusnya berharap Allah bekerja dengan cara-cara yang menakjubkan. Allah mungkin memakai kita untuk melakukan hal-hal itu, tetapi sering kali hal itu terjadi dengan cara yang paling tidak kita pikirkan atau harapkan.
Janda di Sarfat setuju memberikan segenggam tepung terakhir dan tetes-tetes minyak yang masih tersisa kepada seorang asing. Ia bisa saja menentang nabi itu dan menuntut agar ia segera pergi, sebab bagaimanapun ia bertanggung jawab atas anaknya dan sedikit tepung itu adalah satu-satunya yang dapat ia berikan kepada anaknya. Tetapi tidak, ia memilih memberikan semuanya. Allah memberkati ketaatannya yang rela dengan secara ajaib terus menyediakan tepung dan minyak baginya selama ia membutuhkannya.3
Allah terus mengurangi jumlah pasukan Gideon sampai akhirnya ia bertempur dan menang hanya dengan beberapa ratus orang. Biasanya, Gideon terbiasa memimpin pasukan yang berjumlah ribuan orang, dan kini Allah memintanya bertempur dalam pertempuran besar hanya dengan beberapa ratus orang. Pada akhirnya, kemustahilan bagi manusia ini menjadi kesempatan bagi Allah untuk menunjukkan kuasa-Nya.4
Pada awal pelayanan-Nya, Yesus memilih hanya dua belas orang untuk menjadi murid, bukan orang banyak. Pada akhirnya, kelompok kecil pengikut-Nya meninggalkan Dia. Dia diejek dan dibunuh. Bagi semua orang yang menyaksikannya, sisa-sisa pekerjaan Yesus tampaknya telah mati bersama-Nya, tetapi rencana penebusan semesta sedang dijalankan—para nelayan sederhana itu menjungkirbalikkan dunia dengan Injil.5
Dari contoh-contoh ini kita melihat bahwa Allah tidak mencari orang yang terbesar, terkuat, atau terbaik. Dia tidak hanya memakai orang-orang yang memiliki keterampilan khusus atau karunia yang mengesankan. Kekuatan dan sumber daya kita sering kali seperti beberapa ratus prajurit dalam pasukan Gideon—sama sekali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan. Namun, ketika kita memberikan apa yang kita miliki dengan hati yang rela, Allah melipatgandakan upaya kecil kita menjadi pertunjukan kasih karunia-Nya—pertunjukan yang ditujukan bagi-Nya, dan sering kali tidak terlihat oleh orang lain. Tindakan sederhana menata meja adalah tindakan iman, pemberian, dan pelayanan, di mana pun kita berada. Allah telah memilih hal-hal yang lemah ini untuk menjadi berarti di dalam Kerajaan-Nya.
Rahasia hidup yang berhasil adalah Yesus di dalam diri kita, bukan gagasan kita yang sudah terbentuk sebelumnya tentang keberhasilan. Saat Dia bekerja di dalam dan melalui kita, kuasa-Nya akan menyala di rumah dan lingkungan kita. Ketika Dia menjadi alasan kita hidup, kita dapat memercayakan hasilnya kepada-Nya. Dengan mendengarkan suara Yesus, kita dapat membuat perubahan—satu orang, satu perjumpaan, satu hal kecil setiap kalinya.
- Elisabeth Elliot, The Savage My Kinsman (edisi revisi, Servant Publications 1981), epilog, hlm. 147
- Amy Carmichael, Edges of His Ways, hlm. 218
- 1 Raja-raja 17: 11-16
- Hakim-hakim 7
- Lukas 6:13-16, Yohanes 19



