# Dari Redaksi

Dari Redaksi

Bahasa: id  
Penulis: Curvin L Wenger  
Edisi asal: The Heartbeat of The Remnant, Musim semi 2021, Nomor 1  
Halaman sumber: 3, 33  
Baca artikel: <https://remnant.truechristian.church/id/tajuk-redaksi/dari-redaksi-2/>
PDF asli: Spring\-2021\-Remnant\.pdf
[The Heartbeat of The Remnant, Musim semi 2021](<https://remnant.truechristian.church/id/issues/heartbeat-remnant-2021-spring/>)

![](<https://remnant.truechristian.church/images/articles/fe13ba15-f33c-46ff-9d3c-f114f1b2f4d4-1.png>)

Salam kasih Kristen bagi kita semua\. Setahun setengah terakhir ini merupakan masa yang penuh tantangan dalam satu dan lain hal bagi kebanyakan orang\. *Saudara\-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan apabila kamu jatuh ke dalam berbagai\-bagai pencobaan, sebab kamu tahu bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan\. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun –Yakobus 1:2\-4\.*

Kami percaya bahwa apa pun yang telah kalian hadapi, motivasi batin kalian menggemakan perkataan Rasul Paulus, *… sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan\. Aku tahu bagaimana direndahkan dan bagaimana hidup dalam kelimpahan; dalam segala hal dan dalam segala perkara aku telah belajar untuk kenyang maupun lapar, berkelimpahan maupun berkekurangan\. Segala perkara dapat kulakukan melalui Kristus yang memberi kekuatan kepadaku\. –Filipi 4:11\-13\.*

Karena kita sudah hampir memasuki pertengahan tahun yang lain, saya berhenti sejenak untuk merenungkan betapa waktu terus berlalu dengan kecepatan yang kian meningkat\. Bagi banyak orang, 16 hingga 18 bulan terakhir cukup penuh tantangan karena pandemi Covid\-19 dan dampak\-dampak lanjutannya terus mendatangkan kekacauan terhadap segala sesuatu yang dahulu dianggap normal\. Bagi kami, beberapa dampak lanjutan ini telah menghambat kami untuk menerbitkan edisi majalah ini tepat waktu\. Kami mohon maaf\. Namun, semuanya kembali berjalan sesuai rencana sehingga edisi berikutnya dapat diterbitkan dalam beberapa bulan mendatang, dan dengan demikian kami dapat kembali ke jadwal normal\.

Saya melihat pandemi dan dampak\-dampak lanjutannya sangat mirip dengan satu kemacetan lalu lintas besar\. Mula\-mula, banyak kendaraan melaju dengan lancar sesuai batas kecepatan\. Perlahan\-lahan, semakin banyak kendaraan bergabung dengan arus lalu lintas, hingga jalan raya menjadi sangat padat\. Namun, lalu lintas tetap bergerak tanpa hambatan sampai tiba\-tiba sebuah kendaraan mengerem mendadak dan membelok untuk menghindari puing\-puing di jalan\. Seketika, terjadi efek riak atau efek domino, ketika setiap kendaraan mengerem agar tidak menabrak kendaraan di depannya yang baru saja mengerem\. Saya pernah melihat situasi seperti ini menyebabkan lalu lintas berhenti dan berjalan lagi sepanjang satu mil atau lebih, saat laju kendaraan melambat hingga merayap\. Kemudian, setelah setiap kendaraan akhirnya melewati benda yang menghalangi jalan, mereka dapat kembali mempercepat laju ke kecepatan semula\.

Tampaknya hal yang sama terjadi pada perekonomian dunia, baik lokal maupun global, meskipun dalam skala yang jauh, jauh lebih besar\. Mula\-mula terjadi penutupan, baik lokal maupun nasional, yang menyebabkan bisnis kehilangan produksi dan penjualan\. Lalu, ketika bisnis dibuka kembali dan para pekerjanya mulai jatuh sakit, produksi kembali berkurang\. Tiba\-tiba, banyak produsen mendapati persediaan mereka menipis, yang kemudian berkembang menjadi ketidakmampuan untuk memenuhi permintaan\. Karena begitu banyak bisnis di dunia kita telah mengembangkan perdagangan hingga tingkat global, ada banyak produk yang tidak tersedia untuk dijual sementara para produsen menunggu “perusahaan di luar negeri” kembali memiliki persediaan yang cukup untuk memenuhi permintaan global\. Masalah lain yang belakangan muncul adalah bahwa akibat ketidakseimbangan besar antara pasokan dan permintaan pada tingkat global, biaya pembelian banyak produk melonjak tajam, membangkitkan kekhawatiran di kalangan sejumlah ekonom akan krisis global akibat inflasi\.

Bagaimana keadaan gereja? Tampaknya “musuh jiwa kita” telah memakai peristiwa global ini untuk membuat gereja\-gereja di mana\-mana bergumul dalam berbagai hal\. Di rak buku saya ada sebuah buku berjudul Conscience in Crisis, yang membahas sejarah gereja\. Buku ini secara khusus menelaah pergumulan gereja\-gereja “damai” di Amerika kolonial\. Salah satu pokok utama yang dibahas buku ini adalah bahwa peristiwa\-peristiwa global pada masa itu mengguncang fondasi iman dan praktik mereka\. Hal ini menyebabkan hati nurani kolektif gereja\-gereja menghadapi krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang tidak pernah berhasil diatasi oleh banyak orang\. Ada yang meninggalkan iman, ada yang berhenti pergi ke gereja, dan ada yang meninggalkan gerejanya lalu mulai beribadah di gereja\-gereja yang lebih duniawi\. Mereka yang bertahan pun bergumul dengan sungguh\-sungguh menghadapi berbagai persoalan sampai akhirnya mereka kembali dianggap stabil\.

## Sudut Pandang Kita Penting

Ketika memikirkan kata sudut pandang, definisi yang saya gunakan adalah: *sikap tertentu terhadap, atau cara memandang sesuatu; suatu cara pandang*\. Hal ini seperti resep ***kacamata*** yang kita kenakan di depan mata, yang membuat kita melihat segala sesuatu dengan cara yang menyimpang atau dengan penglihatan yang jelas dan sempurna\. Atau, hal ini seperti menggunakan ***filter*** di komputer atau mesin kendaraan, yang hanya membiarkan lewat hal\-hal yang telah ditentukan sebelumnya untuk boleh lewat\.

Jadi, sudut pandang kita serupa dengan menggunakan *filter* atau *sepasang kacamata*\. Sudut pandang kita dibentuk oleh banyak hal: cara kita dididik semasa kecil, teladan yang kita pilih untuk diikuti selama masa pembentukan diri, bahan bacaan yang kita serap, pembimbing rohani yang kepadanya kita membuka hati, serta teman\-teman sebaya yang kita rangkul sepanjang hidup\. Selain itu, sudut pandang kita menentukan cara kita memandang keadaan, cara kita berinteraksi dengan Allah, cara kita memandang dosa dan keselamatan, serta cara kita menanggapi sahabat maupun musuh\.

![Seekor lebah di atas bunga putih](<https://remnant.truechristian.church/images/articles/fe13ba15-f33c-46ff-9d3c-f114f1b2f4d4-2.jpg>)

Di dunia kita sekarang ini terdapat banyak sudut pandang yang semuanya berusaha merebut kesetiaan kita\. Banyak kelompok “berkepentingan khusus” yang berteriak\-teriak meminta dukungan kita bagi tujuan mereka\. Ada diskriminasi rasial dari kedua belah pihak\. Ada suara\-suara yang berteriak “curang” dalam upaya memperoleh dukungan dan keunggulan atas lawan mereka terkait hak pilih, kejujuran hasil pemilu, serta perubahan yang diinginkan pada sistem peradilan dan Konstitusi\. Meskipun suatu persoalan selalu memiliki banyak sisi, biasanya ada upaya untuk bekerja sama demi kebaikan semua orang\. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, tampaknya banyak persoalan menjadi sangat memecah belah hingga memolarisasi masyarakat menjadi dua kubu\. Keseimbangan kekuasaan dalam pemerintahan telah berayun dari satu pihak ke pihak lainnya\. Polarisasi ini telah menimbulkan kepahitan dan kemarahan yang semakin besar, bahkan dalam beberapa kasus meledak menjadi kekerasan dan vandalisme\. Dalam kasus lain, hal ini menyebabkan orang\-orang yang biasanya berkepala dingin kehilangan kendali dan membuat keputusan reaktif yang “gegabah”, yang sama sekali tidak mencerminkan diri mereka\.

Di tengah semua kekacauan dan kebingungan ini, bagaimana sudut pandang kita sebagai gereja? Apakah kita tetap teguh dengan membiarkan Allah dan Firman\-Nya membentuk sudut pandang kita agar selaras dengan sudut pandang\-Nya? Ataukah kita membiarkan tekanan dari satu kelompok teman sebaya atau kelompok lainnya mulai menyimpangkan langkah kita sebagai orang asing dan pendatang?

Saya telah mendengar laporan bahwa sejumlah gereja di berbagai belahan dunia ditekan oleh pemerintah setempat agar tidak berkumpul untuk bersekutu dan beribadah bersama\. Ada keluarga\-keluarga yang, menurut hati nurani mereka, memilih untuk menaati pemerintah dengan memakai masker dan menjaga jarak sosial dalam jangka panjang\. Ada orang\-orang yang menjadi patah semangat\. Keluarga\-keluarga menjadi terasing\. Dan gereja\-gereja bergumul menghadapi satu persoalan demi persoalan lainnya dalam upaya mereka menjaga perdamaian di antara saudara\-saudari seiman\.

Saat berinteraksi dengan orang\-orang yang tidak rutin pergi ke gereja, atau yang menghadiri gereja yang “sekarat”, gereja yang “lebih tua”, atau gereja “kecil di pedesaan”, saya telah mendengar berbagai kesaksian mereka tentang gereja\-gereja berhaluan Anabaptis konservatif\. Mereka takjub melihat cara kita saling menolong, baik secara rutin maupun ketika tragedi terjadi\. Mereka tidak dapat memahami besarnya pesta pernikahan kita dan terutama pemakaman kita\. Mereka tidak mengerti bagaimana anak\-anak kita berperilaku lembut dan menghormati orang lain\.

Marilah kita waspada dan menggunakan hikmat sementara kita terus menghadapi tantangan pada hari\-hari mendatang\. Dari sudut pandang saya yang terbatas, saya percaya bahwa pemakaian masker dan menjaga jarak sosial dalam jangka panjang, jika dilakukan dengan mengorbankan ibadah seperti biasanya sebagaimana yang kita pahami diajarkan oleh Kitab Suci, pada akhirnya akan menimbulkan dampak berantai yang negatif bagi kita sebagai orang percaya\.

Bertahun\-tahun yang lalu, ketika saya terlibat dalam mempelajari “model konseling”, hal itu dipandang sebagai sesuatu yang cukup meresahkan dan merugikan hubungan antarpribadi JIKA seseorang mengenakan “topeng” \(secara kiasan\)\. Setelah menilai dan mempertimbangkan dampak jangka panjang dari seseorang yang mengenakan “topeng” \(secara harfiah\), saya percaya bahwa hal itu AKAN menimbulkan kerugian yang sama besarnya atau bahkan lebih besar terhadap hubungan antarpribadi\. Ada sesuatu yang istimewa ketika berbincang dengan saudara\-saudari seiman saat kita dapat melihat seluruh wajah mereka\. Tanpa menyadarinya, kita membaca bahasa tubuh dan ekspresi wajah, yang membantu kita memahami dan menyampaikan pikiran saat berkomunikasi satu sama lain\. Karena itu, menurut pendapat pribadi saya, pemakaian masker dan menjaga jarak sosial dalam jangka panjang oleh suatu jemaat setempat pada akhirnya akan menurunkan taraf kehidupan dan semangat rohani, sampai suatu hari jemaat setempat itu tidak lagi tampak berbeda dari semua orang Kristen nominal di sekelilingnya\.

Kiranya Allah memberkati setiap orang\. Kiranya kita tidak menyerah dalam perjuangan rohani\. Kiranya kita senantiasa mengarahkan pandangan kepada Bapa kita, Juruselamat kita, dan rumah kita yang kekal\.

Curvin L Wenger

<aside class="translation-notice" data-translation-notice="ai" lang="id" dir="ltr" role="note">
  <p>Artikel ini diterjemahkan menggunakan kecerdasan buatan OpenAI (model: gpt-6-luna) dan belum ditinjau oleh manusia. Naskah asli berbahasa Inggris merupakan versi yang berwenang. Jika terdapat keraguan mengenai maknanya, silakan merujuk pada naskah asli berbahasa Inggris. <a href="/en/editorial/from-the-editor-34/" data-source-article-id="fe13ba15-f33c-46ff-9d3c-f114f1b2f4d4" hreflang="en">Naskah asli bahasa Inggris</a></p>
</aside>

## Referensi majalah

- [Seekor lebah di atas bunga putih](<https://remnant.truechristian.church/images/articles/fe13ba15-f33c-46ff-9d3c-f114f1b2f4d4-2.jpg>): Unsplash\.com
