# Aku Akan Menyimpan Firman Tuhan dalam Hati Ku \(Anak\)

Saudara Perempuan

Bahasa: id  
Penulis: by Melissa Brubaker  
Lebanon, PA  
Edisi asal: The Heartbeat of the Remnant, Musim panas 2023, Nomor 2  
Halaman sumber: 24–25  
Baca artikel: <https://remnant.truechristian.church/id/perempuan/aku-akan-menyimpan-firman-tuhan-dalam-hati-ku-anak/>
PDF asli: Summer\-2023\-Remnant\-web\.pdf
[The Heartbeat of the Remnant, Musim panas 2023](<https://remnant.truechristian.church/id/issues/heartbeat-remnant-2023-summer/>)

Sebagai saudara perempuan dalam Tuhan dan orang percaya yang dilahirkan kembali, saya yakin kita semua sepakat bahwa menghafal firman Tuhan penting bagi kesehatan rohani kita\. Saya menghafal banyak sekali ayat Alkitab selama masa kanak\-kanak saya\. Sebagian besar ayat yang saya hafal diajarkan selama Sekolah Minggu Musim Liburan yang saya hadiri setiap musim panas\.

Pada malam pertama Sekolah Minggu, para guru membagikan tugas hafalan, seringkali sampai beberapa halaman\. Semua itu tidak harus dikerjakan, tetapi hadiahnya menarik\. Sebagian besar tahun saya menghafal semua yang ditugaskan\. Saya memberi pujian kepada para guru dan Sekolah Minggu itu atas kekayaan ayat yang saya hafal selama masa itu\.

Sekarang saya sudah menikah dan memiliki anak sendiri\. Sekolah Minggu dari masa kanak\-kanak saya sudah lama berlalu\. Saya menyadari bahwa jika anak\-anak saya ingin menghafal Kitab Suci, saya harus mewujudkannya\. Sebagai ibu, banyak dari kita tahu pentingnya menghafal Firman Tuhan dan menyimpannya, bukan hanya dalam hati kita, tetapi juga dalam hati anak\-anak kita\.

> *Bagaimanakah pemuda dapat membersihkan jalannya? Dengan menjaga menurut firman\-Mu\. Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau; janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah\-perintah\-Mu\. Aku menyimpan perkataan\-Mu dalam hatiku, supaya aku jangan berbuat dosa terhadap Engkau –Mazmur 119:9\-11\.*

Kita membutuhkan Firman Tuhan dalam hati kita untuk menolong kita dalam pergumulan sehari\-hari melawan dosa\. Anak\-anak kita juga membutuhkan ini\. Sebagian besar anak\-anak kita tidak akan menghafal Kitab Suci tanpa bantuan dari kita\.

Saya dan suami tidak mengawali pernikahan dengan impian menghafal bersama anak\-anak kami\. Bagi keluarga kami, hal itu terjadi hampir secara kebetulan\. Anak tertua kami berumur tiga dan empat ketika suami saya mengusulkan agar kami melatih mereka menghafal kisah Natal yang terdapat dalam Lukas 2:1\-19\. Saya tidak berpikir mereka akan mampu\. Saya kira anak kecil hanya menghafal ayat pendek seperti, “Hendaklah kamu saling mengasihi\.” Kami mulai melafalkannya bersama setiap malam dalam waktu devosi keluarga\. Saya cukup terkejut ketika mereka menghafal bagian ini dengan cepat dan mudah\.

Saya tertarik\. Haruskah kami mencoba lagi? Paskah pun mendekat jadi saya mulai melatih mereka pada kisah penyaliban yang terdapat dalam Yohanes 19:1\-19\. Sekali lagi, mereka menghafalnya tanpa banyak usaha\. Hal itu mendorong saya untuk meneruskan dengan bagian\-bagian lain\.

Ketika tiba waktunya mengajar anak\-anak di rumah, saya ingin hafalan menjadi bagian dari rutinitas harian kami\. Saya membeli sebuah binder dan memasukkan salinan\-cetak bagian\-bagian yang telah kami hafal serta bagian yang ingin saya agar mereka hafalkan\. Ini memulai rutinitas yang masih kami lakukan sampai sekarang\.

Setiap hari kami melafalkan bagian yang sedang dipelajari serta satu bagian yang telah kami hafal sebelumnya\. Kami juga melafalkannya bersama sebagai keluarga saat waktu devosi\. Saya mendapati bahwa dengan cara ini keluarga biasanya menghafal sebuah bagian dalam waktu sekitar tiga sampai empat minggu\.

Pada awal bagian baru, saya membaca ayat itu nyaring\-nyaring\. Seiring hari berlalu, anak\-anak mulai ikut lebih sering\. Akhirnya, saya hanya memulai dan hanya membantu bila mereka butuh bantuan\. Ketika saya pikir mereka sudah tahu, saya minta mereka melafalkannya kepada saya satu per satu\. Jika mereka sudah menguasainya dengan baik, mereka mulai melafalkannya kepada ayah saat devosi keluarga\. Jika belum, kami terus berlatih sampai mereka bisa\. Terkadang saya memberi anak yang kesulitan beberapa ayat saja untuk dilafalkan\. Namun, sebagian besar dari mereka lebih suka melafalkan keseluruhannya\.

Kami menghafal sebagai keluarga bukan secara individual\. Saya tidak berpindah ke bagian baru sampai semua orang telah menghafalnya atau setidaknya menghafalnya sesuai kemampuan mereka\. \(Tidak semua anak dapat menghafal 19 ayat pada usia tiga tahun\.\) Beberapa anak kami baru mulai berbicara pada usia tiga tahun sehingga hafalan Alkitab secara lisan hampir tidak mungkin\. Beberapa anak akan tergagap\-gagap melalui sebuah bagian dan membutuhkan banyak kata petunjuk, yang tidak apa\-apa selama mereka melakukan yang terbaik\. Kadang kami mengulang bagian yang sama beberapa tahun kemudian dan mereka mempelajarinya lebih baik pada pengulangan kedua\.

Ini mungkin terdengar memakan waktu dan menegangkan, tetapi bagi kami tidak demikian\. Saya menghabiskan sekitar lima menit sehari untuk mengerjakan hafalan\. Kami tidak punya batas waktu untuk hafalan sehingga tidak ada tekanan untuk menguasainya pada waktu tertentu\. Anak\-anak telah melakukan ini sejak mereka hampir tidak bisa bicara, jadi mereka terbiasa dan jarang mengeluh\. Karena kami menghafal sebagai keluarga, itu juga menolong anak yang tidak bisa menghafal sebaik yang lain\. Sebagai keluarga, kami memberi dorongan dan sorakan kepada anak yang kesulitan\. Ia merasakan pencapaian walaupun harus bergumul melewati seluruh bagian\.

Saya memberi hadiah kecil untuk setiap bagian yang dihafal\. Saya punya kotak hadiah yang bisa mereka pilih\. Ini tidak perlu mahal\! Saya sering kali tidak mengeluarkan lebih dari satu dolar\. Garage sale dan toko barang bekas adalah tempat untuk membeli barang murah\. Diskon kembali\-sekolah juga menyenangkan karena kebanyakan anak suka paket krayon baru atau penghapus lucu\.

Seiring waktu, saya mendapati diri saya terasa kecewa melihat betapa cepatnya anak\-anak melupakan sebuah bagian yang sudah dihafal\. Saya mengetahui bahwa beberapa tahun kemudian mereka sering hampir tidak bisa melafalkan bagian yang pernah dipelajari\. Saya bertanya\-tanya mengapa saya berusaha jika mereka akan melupakannya dalam beberapa tahun\. Suami saya mendorong saya untuk terus\. Ia berkata bahwa konsepnya tetap ada di hati mereka meskipun mereka tak lagi bisa melafalkan teksnya\. Jadi saya terus, tetapi saya tetap berharap menemukan solusi atas masalah ini\.

Suatu hari saya membaca sebuah artikel yang ditulis oleh seorang ibu lain yang juga melatih anak\-anaknya untuk menghafal\. Dalam artikel itu ia berkata penting untuk memindahkan hafalan dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang\. Solusinya sebenarnya cukup sederhana\. Setiap hari selain melafalkan bagian baru, kami juga melafalkan satu bagian yang sudah dipelajari sebelumnya\. Binder saya sangat berguna untuk ini\! Semua bagian yang telah kami pelajari ada di binder itu\. Saya menggunakan jepitan kertas untuk membantu mengingat bagian yang baru saja kami tinjau\. Setiap hari jepitan itu pindah ke bagian berikutnya\. Ketika kami sampai di ujung, kami mulai lagi\. Ini membantu menjaga bagian\-bagian itu tetap segar dalam ingatan kami serta memindahkannya ke memori jangka panjang\.

Saya juga suka punya tema untuk setiap tahun sekolah\. Suatu tahun tema saya adalah, “Menghafal 100 Ayat\.” Anak\-anak menikmati melihat angkanya naik seiring berjalannya tahun\. Tahun ini kami bekerja pada “Khotbah di Bukit\.” Saya membaginya menjadi 10 bagian\. Tujuannya adalah menyelesaikannya dalam setahun, tetapi jika kami tidak mencapai tujuan itu tidak masalah\. Lebih baik berjalan lambat dan menghafal sesuatu dengan baik daripada cepat tapi tidak mempertahankan apa yang telah dipelajari\.

Ini adalah metode yang saya temukan berguna bagi keluarga kami\. Berdoalah dan mintalah ide kepada Tuhan yang akan bekerja baik untuk keluargamu tanpa membandingkan dirimu dengan keluarga lain\! Jangan meremehkan apa yang bisa dilakukan anak\-anakmu\. Jangan berasumsi karena mereka masih kecil, mereka hanya bisa menghafal satu atau dua ayat\. Anak\-anak sering kali hanya berbuat sebagaimana yang kita harapkan dari mereka, bahkan yang lebih muda sekalipun\.

Setelah kita menghafal Firman Tuhan, kita perlu menggunakannya setiap hari\. Selimut yang disimpan di lemari tidak berguna pada malam musim dingin yang dingin\. Penulis Ulangan merangkum ini dengan baik—*Dan **engkau harus mengasihi TUHAN, Allahmu**, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu\. Dan **firman\-firman ini, yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, haruslah ada dalam hatimu:** Dan **kau harus mengajarkannya dengan tekun kepada anak\-anakmu,** dan haruslah engkau membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang berjalan di jalan, ketika engkau berbaring dan ketika engkau bangun –Ulangan 6:5\-7\.*

Pertama, kita mengasihi Allah\. Lalu kita memasukkan Firman\-Nya ke dalam hati kita\. Akhirnya, kita harus mengajarkan kebenaran\-kebenaran ini kepada anak\-anak kita saat kita melakukan aktivitas sehari\-hari\. Bagian ini mencakup semuanya—duduk, berjalan, berbaring, dan bangun\. Setelah sebuah bagian dihafal, suami saya akan menjelaskan ayat\-ayat itu kepada kami saat waktu devosi\. Ini menolong kami mengerti apa yang sedang kami hafal\.

Kita melakukan banyak hal karena kebiasaan karena kita menyadari pentingnya\. Kita menyikat gigi, menyisir rambut, makan sarapan, dan melakukan banyak hal lain\. Kita melakukan hal\-hal ini setiap hari\. Mereka menjadi bagian rutin dari hidup kita\. Karena kita menghargainya, kita mewujudkannya\. Begitulah seharusnya dengan hafalan Kitab Suci\. Itu terlalu berharga untuk dilewatkan\.

> *Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan Taurat itu dibacanya siang dan malam\. Ia seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan daunnya pun tidak layu; apa saja yang diperbuatnya berhasil –Mazmur 1:1\-3\.*

Ketika kita bersukacita dalam Firman Tuhan, kita akan senang menyediakan waktu untuk menghafal Kitab Suci, dan Firman yang dihafal itu kemudian akan berbuah pada waktunya\.

> *Janganlah kita jemu\-jemu berbuat baik, karena pada waktunya kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah –Galatia 6:9\.*

<aside class="translation-notice" data-translation-notice="ai" lang="id" dir="ltr" role="note">
  <p>Artikel ini diterjemahkan menggunakan kecerdasan buatan OpenAI (model: gpt-5-mini-2025-08-07) dan belum ditinjau oleh manusia. Naskah asli berbahasa Inggris merupakan versi yang berwenang. Jika terdapat keraguan mengenai maknanya, silakan merujuk pada naskah asli berbahasa Inggris. <a href="/en/woman/i-will-hide-god-s-word-in-my-child-s-heart/" data-source-article-id="47fbbdc9-6663-49d8-96d7-b5a6ecb8d689" hreflang="en">Naskah asli bahasa Inggris</a></p>
</aside>
