# Percayalah—Jangan Takut

Pojok Anak\-anak

Bahasa: id  
Penulis: Louella H\. Burkholder  
Myerstown, PA  
Edisi asal: The Heartbeat of The Remnant, Musim semi 2019, Nomor 1  
Halaman sumber: 16–17  
Baca artikel: <https://remnant.truechristian.church/id/anak-anak/percayalah-jangan-takut/>
PDF asli: Spring\-2019\-Remnant\.pdf
[The Heartbeat of The Remnant, Musim semi 2019](<https://remnant.truechristian.church/id/issues/heartbeat-remnant-2019-spring/>)

![Pengukur bahan bakar dengan jarum hampir menunjukkan kosong](<https://remnant.truechristian.church/images/articles/4c0794e8-20a4-43fb-a2ea-5f8f45d93f7d-1.png>)

Bermil\-mil jalan terlewati dengan cepat sementara Carol mengendarai Chevy tua menyusuri jalan raya antarnegara bagian yang ramai menuju rumah\. Di sela\-sela keheningan dan percakapan, Carol dan kedua saudarinya, Elaine dan Gloria, mengangkat suara mereka dalam nyanyian, mengucap syukur dan pujian kepada Sang Pencipta\. Betapa bersyukurnya mereka karena berkesempatan menghabiskan malam bersama teman\-teman di Gereja Pine Creek dan menerima satu lagi pesan yang menginspirasi dari Firman Tuhan\.

Tiba\-tiba perjalanan mereka yang lancar terganggu oleh tanda\-tanda masalah\. “Apa lagi yang salah dengan mobil ini?” Carol berkata dengan cemas sambil mengarahkan mobil yang mogok ke pinggir jalan\. “Oh, tidak, teman\-teman, bensin kita habis\! Tadi malam aku begitu terburu\-buru sampai lupa memeriksa alat pengukur bahan bakar\. Kukira tangkinya hampir penuh saat kita berangkat dari rumah, dan… Oh, tidak\!” seru Carol lagi\. “Ayah meletakkan telepon genggam di meja dapur supaya kubawa, dan aku juga lupa membawanya\!”

“Lalu sekarang kita harus bagaimana?” seru Elaine\. “Kita terdampar di tengah kegelapan, tanpa bensin, tanpa telepon, dan pintu keluar kita masih tujuh mil lagi\! Dan satu lagi, orang\-orang sekarang tidak cepat\-cepat berhenti untuk menawarkan bantuan\. Mereka tahu hampir semua orang membawa telepon\. Rasanya ini hampir mustahil bagiku\!” katanya dengan sedih dari kursi belakang\.

Saat gadis\-gadis itu terdiam, Chevy tua itu seolah berguncang memprotes ketika iring\-iringan panjang truk melesat melewati mereka\. “Kalian tahu,” kata Gloria, “aku baru saja teringat akan pesan Saudara Lester malam ini\. Bagaimana mungkin kita begitu cepat melupakannya\! Mungkin Tuhan mengizinkan hal ini terjadi kepada kita agar iman kita bertambah saat kita menaruh kepercayaan kepada\-Nya\. Mari kita bawa hal ini kepada Tuhan dalam doa\. Mari kita nantikan mukjizat dari tangan Tuhan\.”

Bersama\-sama, gadis\-gadis itu menundukkan kepala dan memohon perlindungan serta pertolongan Tuhan\.

“Kalian tahu, aku sudah merasa lebih baik,” kata Elaine sambil tersenyum\. “Tadi aku sangat khawatir dan takut, tetapi sejak kita berdoa dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan, aku yakin Dia akan menjaga kita\. Aku sangat bersyukur kita memiliki Tuhan yang mendengar semua seruan kita\. Apa jadinya kita tanpa Roh Kudus\-Nya yang menghibur? Mari bernyanyi lagi\.”

“Sukacita mengalir bagai sungai,  
 Sejak Sang Penghibur datang;  
 Dia tinggal bersama kita selamanya,  
 Menjadikan hati yang percaya rumah\-Nya\.  
 Damai yang terberkati, damai yang kudus,  
 Jaminan indah dalam jiwaku\!  
 Di lautan bergelora Yesus berfirman kepadaku,  
 Maka ombak pun berhenti menggelora\!”

*\-Manie P\. Ferguson, abad ke\-19*

Saat gadis\-gadis itu menyanyikan lagu demi lagu, hati mereka sangat terharu\. Betapa tenang dan damainya perasaan mereka, meskipun terdampar di jalan raya yang gelap, tiga belas mil dari rumah\. Mobil demi mobil dan truk demi truk melaju melewati mereka tanpa berhenti\. Lalu mereka melihat sebuah truk pikap yang membawa dua motor trail di belakangnya melambat\. Truk itu menepi beberapa ratus kaki di depan mereka, lalu perlahan mulai mundur\. Suara gadis\-gadis itu terhenti dalam keheningan saat mereka dengan sungguh\-sungguh berseru kepada Tuhan dari lubuk hati\. Ketika truk itu berhenti, dua pria bertubuh kekar dan berambut panjang melompat keluar\. Carol menurunkan kaca jendelanya sementara seorang pria berjaket flanel kotak\-kotak merah mendekat\.

![Sebuah mobil tua berhenti di jalan yang gelap dengan lampu depan kendaraan lain di belakangnya](<https://remnant.truechristian.church/images/articles/4c0794e8-20a4-43fb-a2ea-5f8f45d93f7d-2.jpg>)

“Ada masalah apa, Nona\-Nona?” tanyanya sambil melihat mobil itu\.

“Bensin kami habis,” jawab Carol cepat\.

“Wah, kurasa kita cukup beruntung\. Kami membawa sekaleng bensin\. Kalian masih harus menempuh berapa jauh?”

“Sekitar tiga belas mil\.”

“Bagus\. Kita tuangkan saja sebagian bensin kami ke tangki kalian, lalu kalian bisa melanjutkan perjalanan\. Tidak perlu membayar\.”

“Oh, terima kasih banyak,” jawab Carol\. “Kami berdoa agar Tuhan mengirimkan pertolongan, dan Dia melakukan lebih dari yang pernah kami bayangkan\! Terima kasih banyak\.”

“Ya, ya,” jawab pria itu dengan kasar, “kalian cukup beruntung kami lewat\. Kami senang bisa membantu\.”

Beberapa menit kemudian, gadis\-gadis itu melanjutkan perjalanan\. “Kalian tahu,” kata Carol, “ketika melihat truk itu menepi, aku merasa takut sekaligus lega\. Aku mulai menyalahkan diriku lagi karena tidak membawa telepon genggam itu\. Tetapi kemudian aku meminta Tuhan menolongku agar sepenuhnya percaya kepada\-Nya dan tidak takut\. Lagi pula, bukankah Dia jauh lebih dapat diandalkan daripada telepon genggam mana pun? Pengalaman ini sungguh menguatkan imanku\. Bisa saja semuanya berakhir sangat berbeda kalau kita hanya mengandalkan telepon genggam atau ‘keberuntungan’ seperti yang disebut pria\-pria itu\. Pasti sangat menyedihkan hati Bapa kita ketika kita tidak menaruh kepercayaan kepada\-Nya\.”

“Itulah juga yang Saudara Lester khotbahkan malam ini,” tambah Gloria\. “Ingat beberapa ayat itu? *Aku telah menanti\-nantikan TUHAN dengan sabar; lalu Ia berpaling kepadaku dan mendengar seruanku … Ia memberikan nyanyian baru ke dalam mulutku, bahkan pujian kepada Allah kita… Berbahagialah orang yang menjadikan TUHAN kepercayaannya, dan yang tidak berpaling kepada orang\-orang congkak atau kepada mereka yang menyimpang kepada dusta\. –Mzm\. 40:1\-4\.* Aku begitu bahagia sampai ingin terus bernyanyi dan bersyukur kepada Tuhan\!”

Sekali lagi, gadis\-gadis itu mengangkat suara mereka dalam nyanyian:

“Mata\-Nya selalu mengawasi,  
 Telinga\-Nya tajam mendengar;  
 Kasih\-Nya cukup sempurna  
 Untuk menenangkan ketakutan terberat\.  
 Maka percayalah kepada\-Nya dalam terang dan kelam;  
 Percayalah kepada\-Nya, jangan takut:  
 Dia berjalan dekat di sisimu;  
 Tangan\-Nya akan menuntunmu dengan aman;  
 Sayap\-Nya akan melindungimu dengan kokoh;  
 Maka percayalah\! Jangan takut\.”

*\-Charles H\. Gabriel, 1856\-1932*

<aside class="translation-notice" data-translation-notice="ai" lang="id" dir="ltr" role="note">
  <p>Artikel ini diterjemahkan menggunakan kecerdasan buatan OpenAI (model: gpt-6-luna) dan belum ditinjau oleh manusia. Naskah asli berbahasa Inggris merupakan versi yang berwenang. Jika terdapat keraguan mengenai maknanya, silakan merujuk pada naskah asli berbahasa Inggris. <a href="/en/children/trust-be-not-afraid/" data-source-article-id="4c0794e8-20a4-43fb-a2ea-5f8f45d93f7d" hreflang="en">Naskah asli bahasa Inggris</a></p>
</aside>
